Ketika seseorang membayangkan studi di Al-Azhar, ia mungkin melihat dua ruang belajar yang berbeda: ruang kuliah di fakultas dan majelis ilmu di sekitar Masjid Al-Azhar. Keduanya menawarkan pengalaman yang berharga, tetapi fungsi dan ritmenya tidak sama.
Perkuliahan formal memberi struktur. Ada mata kuliah, materi, jadwal, tugas, dan evaluasi. Mahasiswa belajar mengikuti arah kurikulum, memahami istilah bidang studinya, serta memenuhi tuntutan akademik sampai lulus. Struktur ini penting, terutama saat materi terasa luas dan waktu belajar terbatas.
Talaqqi membuka ruang lain. Dalam kajian bersama pengajar, teks dibaca dan dijelaskan secara lebih dekat. Pertanyaan dapat bergerak dari arti kalimat menuju alasan sebuah pendapat, hubungan antarbab, dan cara ulama membangun argumen. Bagi pelajar, ini kesempatan untuk melatih ketelitian membaca dan adab bertanya. Namun manfaatnya baru terasa jika pilihan majelis sesuai dengan kemampuan dan tidak membuat kewajiban kuliah terabaikan.
Di sinilah tantangan sebenarnya: bukan memilih “kuliah atau talaqqi”, melainkan menyusun keduanya dalam satu perjalanan belajar yang masuk akal. Mahasiswa baru sering perlu lebih dulu memahami ritme kampus, bahasa pengantar, dan materi wajib. Setelah fondasinya lebih kuat, kajian di luar kelas dapat memperdalam topik yang sedang dipelajari. Jadwal yang penuh belum tentu berarti pemahaman bertambah.
Saya melihat tiga pertanyaan sederhana membantu menjaga arah:
- Apa yang wajib saya pahami semester ini? Mulailah dari peta mata kuliah dan bahan utama.
- Bagian mana yang masih sulit ketika dibaca sendiri? Di situ bimbingan dan diskusi paling bernilai.
- Apa yang mampu saya jelaskan kembali? Pemahaman menjadi lebih jelas ketika kita dapat menyusunnya dengan kata sendiri.
Kairo memberi akses pada banyak sumber belajar. Justru karena pilihannya banyak, mahasiswa perlu belajar memilih. Perkuliahan membangun kerangka; talaqqi dapat memperdalam bacaan; latihan pribadi menghubungkan keduanya. Bila tiga bagian ini dijalani dengan arah yang jelas, pengalaman akademik tidak berhenti pada menuntaskan materi, tetapi tumbuh menjadi pemahaman yang dapat dipakai.